Senin, 15 Juni 2015

TEORI BELAJAR KOGNITIF SOSIAL



20 Juni 2015
TEORI BELAJAR KOGNITIF SOSIAL
Oleh
FIRDA ARWANDA
A.    Teori Kognitif Sosial
Menyatakan bahwa factor sosial dan kognitif sosial serta factor pelaku memainkan peran penting dalam pembelajaran. Factor kognitif berupa ekspektasi siswa untuk meraih keberhasilan, factor sosial mencakup pengamatan siswa terhadap perilaku orang tuanya.
Menurut Bandura ketika siswa belajar mereka dapat mempresentasikan atau mentransformasi pengalamam mereka secara kognitif.
B.     Pembelajaran Observasional
Pembelajaran observasional disebut sebagai pembelajaran imitasi atau modeling adalah pembelajaran yang dilakukan dengan mengamati atau meniru perilaku orang lain. Menurut Bandura (1986) proses spesifik yang terlibat dalam pembelajaran observasional ada empat, yaitu proses atensi, retensi, produksi dan motivasi.
C.     Menggunakan Pembelajaran Observasional Secara Efektif
1.      Pertimbangkan tipe model yang akan dihadirkan untuk siswa
2.      Tunjukan dan ajari perilaku
3.      Menggunakan temen sebaya sebagai model yang efektif
4.      Mentor digunakan model
5.      Undang tamu kelas yang akan memberikan model yang baik bagi murid anda
6.      Pertimbangkan model yang dilihat anak ditelivisi, video dan computer.
D.    Pendekatan Perilaku Kognitif dan Regulasi
Dalam pendekatan perliku kognitif adalah mengubah perilaku dengan menuruh orang untuk memonitor, mengelola dan mengatur perilaku mereka sendiri, bukan dipengaruhi oleh factor ekternal. Menurut meichenbaum (1971) dengan pendekatan ini membantu menubah miskonsepsinsepsi dari siswa, memperkuat keahlian siswa dan mendorong refleksi diri yang konstruktif.
E.     Evaluasi Pendekatan Kognitif Sosial
Beberapa kelemahan dalam menggunakan teori kognitif sosial dikelas adalah kesulitan dalam meneraokan porsi self efficacy dan komponen regulasi diri. Masalah lain adalah bahwa dalam memilih model untuk perilaku, orang mungkin aka kehilangan beberapa anggota pembelajaran dengan alas an bahwa salah memilih model.
Tugas ini dibuat untuk memenuhi matakuliah Bapak Dirgantara Wicaksono, M.Pd….

TEORI BELAJAR BEHAVIORISME


18 Juni 2015
TEORI BELAJAR BEHAVIORISME
Oleh
FIRDA ARWANDA
A.    Sejarah Perkembangan Psikologi Behaviorisme
Behaviorisme merupakan transisi dari psikologi sebelumnya (psikologi struktualisme dan fungsionalisme). Psikologi behaviorisme memaknai belajar sebagai studi tentang perilaku,  psikologi behavorisme cenderung memandang perilaku manusia dapat diamati dan dikuatifikasi memiliki makan sendiri, serta tidak hanya berfungsi sebagai perwujudan peristiwa mental yang mendasarinya.
B.     Belajar Menurut Tokoh Behaviorisme
Behavirisme adalah aliran psikologi yang menekankan pada tingkah laku dan perilaku manusia sebagai reaktif yang memberikan respon terhadap lingkungan sekitar.
Prinsip-prinsip pembelajaran behaviorisme  :                    
a.       Stimulus dan respon
b.      Reinforcement and funishment
Adalah tindakan penguatan untuk meningkatkan frekuensi perilaku.
c.       Primary and secondary reinforcement
Pengutaan primer adalah bentuk penguatan yang diberikan dalam wujud pemuasan kebutuhan dasar manusia.
d.      Prinsip premarck
Digunakan untuk meningkatkan kegiatan yang kurang diingankan, dengan menghubungkannya pada kegiatan yang lebih menyenangkan
e.       Operant conditioning
Yaitu lingkungan yang dapat memberikan efek kepada orang yang berada diskitarnya.
                        Kelebihan teori belajar behaviorisme :
a.       Sangat akurat dan cocok jika digunakan dalam bidang yang membutuhkan praktek dan pembiasaan
b.      Sangat relevan jika digunakan pada pendidikan usia dini dan sekolah dasar tingat pertama
Kekurangan pada teori ini dituntut untuk dipelajari dan dikembangkan hal-hal yang dianggap berguna bagi perkembangan dan kemajuan pendidikan di Indonesia. Adapun hal-hal yang perlu dikembangkan adalah : Penguatan, Pengkondisian, serta Pembelajaran tentang struktur manusia baik fisik maupun pisikis.
C.     Struktur Manusia menurut Teori Belajar Behaviorisme
Diketahui teori belajar menurut behaviorisme lebih cenderung menilai out put belajar hanya pada aspek jasmani oleh karena iu teori belajar behaviorisme masih memiiki kekurangan.
Aspek pisikis dalam teori belajar behaviorisme cenderung diabaikan oleh karena tidak dapat diamati dan diukur oleh paca indera.
D.    Implikasi Teori Behaviorisme dalam pembelajaran
Berdasar pada teori belajar behaviorisme da empirisme maka implikasi proses pembelajarannya adalah (teacher oriented) yakni hanya dikuasai oleh guru, sedangkan siswa hanya sebagai obyek pembelajaran dan meredam potensi kecerdasan alami siswa yang telah dibawa sejak di alam ruh , rahim dan dunia.
Tidak semua mata pelajarn dapat menggunakan teori behaviorisme, hal ini dapat dilihat dari perkembangan ilmu pengetahuan teknologi dimana siswa dituntut aktif dalam mencari sumber belajar lain selain bahan ajar dari guru.
Tulisan ini dibuat untuk menuhi tugas Bapak Dirgantara Wicaksono, M.Pd…

PENGEMBANGAN KURIKULUM 2013



16 Juni 2015
PENGEMBANGAN KURIKULUM 2013
Oleh
FIRDA ARWANDA
A.    Perunya Perubahan dan Pengembangan Kurikulum 2013
Perlunya perubahan kurikulum juga karena adanya beberapa kelemahan yang ditemukan dalam KTSP 2006 yaitu :
1.      Isi dan pesan-pesan kurikulum masih terlalu padat,
2.      Kurikulum belum mengembangkan kompetensi secara utuh sesesui dengan visi, misi, dan tujuan pendidikan nasional,
3.      Kompetensi yang dikembangkan lebih didominasi oleh aspek pengetahuan,
4.      Berbagai kompetensi yang diperlukan sesuai dengan perkembangan masyarakat,
5.      Kurikulum belum peka dan tanggap terhadap berbagai perubahan sosial yang terjadi pada tingkat local, nasional, maupun global,
6.      Standar proses pembelajaran belum menggambarkan urutan pembelajaran yang rinci,
7.      Penilain belum mengguanakan standar penilain berbasis kompetensi.

B.     Landasan Pengembangan Kurikulum 2013
1.      Landasan filosofis
a.       Pancasila yang memberikan berbagai prinsip dasar dalam pembangunan pendidikan
b.      Pendidikan yang berbasis pada nilai-nilai luhur, akademik, kebutuhan peserta didik, dan masyarakat.
2.      Landasan yuridis
a.       RPJMM 2010-2014 sektor pendidikan, tentang perubahan metodologi pembelajaran dan penatan kurikulum
b.      PP No. 19 Tahun 2005 tentang standar nasional pendidikan.
c.       INPRES No. 1 Tahun 2010, tentang perencanaan pelaksanaan prioritas pembangunan nasional.
3.      Landasan konseptual
C.    Tujuan Pengembangan Kurikulum 2013
Melalui pengembangan kurikulum 2013 kita akan menghasilkan insane Indonesia yang: produktif, kreatif, inovatif, afektif; melalui penguatan sikap, ketrampilan, dan pengetahuan yang terintegrasi.
D.    Kurikulum 2013 Berbasis Kompetensi
Beberapa aspek atau ranah yang terkandunng dalam konsep keompetensi dapat diuraikan sebagai berikut ;
1.      Pengetahuan yaitu kesadaran dalam bidang kognitif
2.      Pemahaman yaitu kedalam kognitif dan afektif yang dimiliki oleh individu
3.      Kemampuan yaitu sesuatu yang dimiliki oleh individu untuk melakukan tugas atau pekerjaan yang dibebankan kepadanya
4.      Nilai yaitu suatu standar perilaku yang telah diyakini dan secara psikologis telah menyatu dalam diri  seseorang
5.      Sikap yaitu perasaan atau reaksi terhadap suatu ransangan yang datang dari luar
6.      Minat yaitu kecenderungan seseorang untuk melakukan sesuatu perbuatan.
Dari berbagai sumber, sedikitnya dapat diidentifikasikan lima karakteristik kurikulum berbasis kompetensi;
a.       Mendayagunakan keseluruhan sumber belajar
b.      Pengalaman belajar
c.       Strategi individual personal
d.      Kemudahan belajar
e.       Belajar tuntas

E.     Tingkat Pengembangan Kurikulum
1.      Pengembangan kurikulum tingkat nasional
Pada tingkat nasional dilakukan penataan terhadap Standar Nasional Pendidikan, terutama pada SKL, standar isi, proses, dan penilaian, yang dituangkan dalam peraturan pemerintahan No. 32 Tahun 2013.
2.      Pengembangan kurikulum tingkat wilayah
Berkaitan dengan pengembangan kompetensi dan silabus untuk berbagai mata pelajaran diluar mata pelajar kurikulum nasional. Dilakukan oleh Tim Pengembangan Kurikulum Tingkat Wilayah di bawah koordinasi dinas pendidikan provinsi.
3.      Pengembangan kurikulum tingkat satuan pendidikan
Pada tingkat ini dibahas pengembangan kurikulum untuk setiap jenis lembaga pendidikan.
4.      Pengembangan silabus
Dalam kurikulum 2013, pengembangan silabus tidak lagi oleh guru, tetapi sudah disiapkan oleh tim pengembangan kurikulum , baik ditingkat pusat maupun wilayah. Dengan demikian guru tinggal mengembangkan RPP berdasarkan buku panduan guru, buku panduan siswa dan buku sumber yang semuanya telah disiapkan.
5.      Pengembangan program pembelajaran
Berdasarkan silabus, KI, dan kompetensi lulusan yang telah diidentifikasi dan diurutkan sesuai dengan tingkat pencapainnya, selanjutnya dikembangkan program-program pembelajaran. Dalam kurikulum 2013 program pembelajaran yang dikembangkan adalah tematik dan terpadu, sehingga kegiatan pengembangan rencana pembelajaran terpadu.

F.      Pengembangan Struktur Kurikulum2013
1.      Identifikasi Kompetensi
Sedikitnya ada 8 sumber yang dapat digunakan untuk mengidentifikasi kompetensi yaitu : Daftar yang ada, Penjabaran bidang studi, Penjabaran mapel, Analisis taksonomi, Masukan dari profesi, Membangun teori, Masukan didik dan masyarakat, Analisis tugas.
2.      Struktur kurikulum SD
Usulan Rancangan Struktur Kurikulum SD
No
Kompetensi Rancangan
1.
Berbasis tematik integratif sampai kelas VI
2.
Menggunakan kompetensi lulusan untuk merumuskan kompetensi hasil pada setiap kelas
3.
Menggunakan pendekatan sains dalam proses pembelajaran (mengamati), menanya, mencoba, mengolah, menyajikan, menyimpulkan(menciptakan) semua mapel
4.
Menggunakan IPA & IPS sebagai materi pembahasan pada setiap semua mapel
5.
Meminimumkan jumlah mapel dengan hasil 10 dapat dikurangi menjadi 6
6.
Menempatkan IPA & IPS pada posisi sewajarnya bagi anak SD
7.
Perbedaan IPA & IPS dipisah atau diintegrasikan hanyalah pada apakah buku teksnya terpisah atau jadi satu.
8.
Menambah 4 jam per minggu akibat perubahan proses pembelajaran dan penilaian.

Tugas ini dibuat untuk memenuhi matakuliah Bapak Dirgantara Wicaksono, M.P.d…